[Ficlet] Before The Reality

before the reality

A FANFICTION

BY

SCARLETTLI (@bellasallsa)

//Before The Reality//Oh Sehun [EXO-K], OC (Jisun)//

//Romance, School-Life//PG 13//Ficlet//

“Kau pikir aku tak pernah menoleh?”

ΔΔΔ

 

Kalau aku bisa masuk ke dalam mimpimu, akankah kau jatuh ke pelukanku?

Kalau aku bisa merasuki pikiranmu, akankah kau perpaling ke padaku?

Bagian ragu menjerumuskanku terlalu dalam

Kelemahanku melemahkanku

Tak dapat kusentuh bayangan putih porselen meski dalam diam

Yang hanya bisa kulihat berada di bawah naungan

 

Namun seakan bayang dalam kegelapan, aku tak ada

Jikalau terlihat, hanya menjadi abu dan rapuh

Terlalu takut menemui matahari terik yang berada

Berlindung di balik naungan hijau rimbun nan jauh

Berharap suatu saat kau akan menoleh dan menyadarinya

Meski untuk sesaat

 

Ia terdiam sejenak. Bibirnya mengerut ragu beserta kerutan berlipat-lipat pada dahinya yang semakin dalam. Namun ketukan jarinya seakan selaras dengan irama lagu. Meski Junmyun telah mengacungkan ibu jarinya kepada Jongdae dan pria itu kembali melanjutkan, “Wah, sungguh puisi yang mengesankan. Bukankah puisi itu sangatlah keren? Continue reading

[Announcement] FF Competition 2015

Ayo ikutan!

Oh Sehun Fanfiction Indonesia

sfi-ff-competition-banner

Halo! Untuk merayakan ulangtahun SFI yang ke-2, kami akan membuat sebuah perayaan sederhana yaitu FF Competition! Event ini akan dilaksanakan mulai dari hari ini (14/07) hingga 09/08. FF Competition ini dibuka untuk umum, mohon ikuti persyaratannya dan dapatkan hadiahya! Tidak seperti tahun lalu, kali ini seluruh staff akan melakukan acara untuk memeriahkan ulang tahun SFI yang kedua ini.

View original post 558 more words

[Ficlet] Morning

morning

A FANFICTION

BY

SCARLETTLI (@bellasallsa)

//Morning//Oh Sehun [EXO-K], OC (Jisun)//

//Romance, Fluff//PG 13//Ficlet//

“Aku tetap mencintaimu meski aku baru tahu setelah menikah bahwa kau suka mendengkur saat tidur.”

∇∇∇

Aroma roti bakar seketika menyeruak hingga ke sisi sudut ruangan. Sementara dari atas kompor telfon berdesis keras, menyuarakan percampuran minyak panas dengan bawang. Sementara tangan dan kaki miliknya tak henti bergerak, entah untuk memotong ataupun bergerak mengambil bahan mentah untuk dijadikannya sarapannya. Sambil berharap bahwa semua akan selesai tepat waktu.

Ia melirik jam dinding yang terpajang di sebelah mebel lalu menghela napas. Ia benar-benar terlambat. Semuanya takkan terjadi seperti andai ia tidak mengikuti keinginan lelaki itu. Andai saja lelaki itu tidak memberikannya permintaan bodoh tadi malam, mungkin pada jam sekarang ini ia sudah dapat menghidangkan sarapan buatannya ke atas meja makan.

“Selamat pagi.” Continue reading

All About Revealing The Truth : Zero

all-about-revealing-the-truth

Title: All About Revealing The Truth

Sub-title : Zero Cast: Byun Baekhyun [EXO-K], Kim Joonmyeon (Suho) [EXO-K], Lu Han [Mandarin’s Actor], Song Hwasung [OC]

Genre: Romance, Angst, AU, Drama, Friendship Rated: PG 15 Length: Chaptered

Notes: Ini masih rata-rata Hwasung’s side, tapi ini bakal jadi yang terakhir Hwasung’s side.

Previous:

Make You Feel My Love

Before | Love Teaser | Time To Forget | Heart Attack | Please Don’t | Begin Again | Reflection | Bittersweet

All About Revealing The Truth:

Zero

      Dan sekarang Luhan tahu, kenapa ia pantas membenci orang yang telah membuat Hwasung jatuh cinta.

∇∇∇

Kabut sisi gelap awan telah perlahan memudar, namun belum sempat menghapus tangis Hwasung yang sudah bertahan sebelum guntur tanpa titik-titik air bersamanya. Meski enggan mengakuinya, air mata itu kembali menuruni pipinya dan kembali membuatnya telihat lemah, meski memang seperti itulah keadaannya. Ia sama sekali tak mengharapkan bisa menghapus air mata ini secepatnya, karena ia tahu hal itu tak bisa dipaksakan. Ia pernah seperti ini sebelumnya, jadi ia tak kaget akan menjadai seperti ini.

Hwasung menatap Luhan yang baru saja kembali dari konter kasir, membawakan segelas cokelat panas. “Terima kasih.” ucapnya kepada Luhan lalu menggenggam gelas cokelat panas tersebut erat. “Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai sini? Bukankah kau masih berada di Thailand?” tanyanya dengan suara serak. Air matanya mulai mengering dan berhenti, namun bekasnya masih terlihat. Luhan menghela napas menatap wanita di hadapannya itu. Ia tampak begitu rapuh, namun Luhan tak mampu berbuat banyak selain menenangkannya dan menemaninya. Terlalu berekspetasi besar kalau ia bisa mengalihkan tangis itu menjadi tawa. Dan meski hal itu benar, itu hanya bersifat sementara. Continue reading